Mulai sekarang, kami Elev8

Kami bukan sekadar broker. Kami adalah ekosistem trading all-in-one—semua yang Anda butuhkan untuk menganalisis, trading, dan berkembang ada di satu tempat. Siap untuk meningkatkan trading Anda?

Rupiah Stabil di Atas 16.750 Jelang Data NFP AS, Pasar Waspada

  • Rupiah bergerak di sekitar Rp16.760/USD menjelang rilis Nonfarm Payrolls AS, investor bersikap hati-hati.
  • Konsumsi domestik melambat, sementara sentimen fiskal dan pasar modal tetap menjadi perhatian.
  • Data ekonomi AS dan ekspektasi kebijakan The Fed dipandang akan memandu arah rupiah selanjutnya.

Rupiah bergerak stabil di kisaran Rp16.760 per dolar AS pada perdagangan Rabu siang menjelang rilis data ketenagakerjaan AS, dengan pelaku pasar cenderung menunggu katalis global baru sebelum mengambil posisi lebih besar. Pergerakan yang terbatas menunjukkan bahwa investor bersikap hati-hati terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Secara rentang, area Rp16.700-16.750 dilihat sebagai zona relatif stabil bagi rupiah jika sentimen eksternal tetap kondusif, sementara kisaran Rp16.800-16.850 berpotensi menjadi area tekanan apabila dolar kembali menguat. Pasar juga mengantisipasi volatilitas yang lebih tinggi setelah rilis data, yang dapat menguji kembali batas atas pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

Dari dalam negeri, konsumsi menunjukkan moderasi. Penjualan ritel Indonesia untuk Desember yang dirilis sehari sebelumnya tumbuh 3,5% YoY, melambat dari 6,3% YoY sebelumnya, menandakan konsumsi masih meningkat namun momentumnya tidak sekuat periode sebelumnya.

Sentimen fiskal juga menjadi perhatian. Laporan Reuters menyebut pemerintahan Presiden Prabowo tetap mendorong belanja publik besar demi target pertumbuhan 8%, meski peringatan MSCI dan penurunan prospek utang Indonesia oleh Moody’s sempat memicu kehati-hatian investor. Kebijakan fiskal ekspansif dinilai membawa risiko tambahan, meskipun defisit masih berada di bawah batas resmi 3%.

Di pasar modal, keputusan FTSE Russell menunda rebalancing saham Indonesia untuk Maret 2026, mengikuti langkah MSCI sebelumnya, menjadi faktor sentimen tambahan. Penundaan tersebut berkaitan dengan isu transparansi harga saham dan free float, yang berpotensi menahan arus dana asing dalam jangka pendek, meski dampaknya terhadap rupiah dinilai tidak langsung.

Data AS Beri Sinyal Campuran, Pasar akan Cermati NFP untuk Arah Dolar dan Rupiah

Dari sisi eksternal, data ekonomi AS menunjukkan sinyal campuran. Penjualan ritel AS Desember stagnan secara bulanan, di bawah ekspektasi kenaikan 0,4% dan melambat dari kenaikan 0,6% pada November. Secara tahunan, pertumbuhan penjualan ritel tercatat 2,4%, turun dari 3,3% sebelumnya. Sementara itu, laporan ADP National Employment menunjukkan sektor swasta AS menambah sekitar 107 ribu pekerjaan pada Januari, mengindikasikan pasar tenaga kerja masih kuat meski momentum mulai moderat.

Usai rilis data yang dirilis semalam tersebut, USD tampak melemah dengan Indeks Dolas AS (DXY) kini berada tidak jauh dari level 96,50 di akhir sesi Asia hari Rabu. Indeks ini melanjutkan pelemahannya selama empat hari berturut-turut setelah menguji level dekat 98.

Fokus pasar kini tertuju pada rilis Nonfarm Payrolls (NFP) AS Januari pada Rabu pukul 13:30 GMT (20:30 WIB) yang sempat tertunda karena penutupan pemerintah. Konsensus memprakirakan penambahan sekitar 70 ribu pekerjaan, tingkat pengangguran stabil di 4,4%, serta pertumbuhan upah sedikit melambat. Data tersebut diprakirakan menjadi acuan utama bagi arah dolar AS dan turut memengaruhi pergerakan rupiah.

Indikator Ekonomi

Nonfarm Payroll (NFP)

Rilis Nonfarm Payrolls menyajikan jumlah pekerjaan baru yang diciptakan di AS selama bulan sebelumnya di semua bisnis non pertanian; dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS). Perubahan bulanan dalam payrolls bisa sangat fluktuatif. Angka tersebut juga tunduk pada tinjauan yang kuat, yang juga dapat memicu volatilitas di bursa Forex. Secara umum, pembacaan yang tinggi dipandang sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sementara pembacaan yang rendah dipandang sebagai bearish, meskipun tinjauan bulan sebelumnya dan Tingkat Pengangguran sama relevannya dengan angka utama. Oleh karena itu, reaksi pasar bergantung pada bagaimana pasar menilai semua data yang terkandung dalam laporan BLS secara keseluruhan.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Rab Feb 11, 2026 13.30

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 70Rb

Sebelumnya: 50Rb

Sumber: US Bureau of Labor Statistics

Laporan lapangan pekerjaan bulanan Amerika dianggap sebagai indikator ekonomi paling penting bagi pedagang valas. Dirilis pada hari Jumat pertama setelah bulan yang dilaporkan, perubahan jumlah posisi berkorelasi erat dengan kinerja ekonomi secara keseluruhan dan dipantau oleh pembuat kebijakan. Pekerjaan penuh adalah salah satu mandat Federal Reserve dan mempertimbangkan perkembangan di pasar tenaga kerja saat menetapkan kebijakannya, sehingga berdampak pada mata uang. Meskipun beberapa indikator utama membentuk perkiraan, Nonfarm Payrolls cenderung mengejutkan pasar dan memicu volatilitas yang substansial. Angka aktual yang mengalahkan konsensus cenderung membuat USD bullish.

USD: Risiko Independensi The Fed Membatasi Dampak Lapangan Pekerjaan – Commerzbank

Antje Praefcke dari Commerzbank berpendapat bahwa laporan pasar tenaga kerja AS yang tertunda di bulan Januari tidak mungkin memicu pergerakan besar pada Dolar AS, karena Nonfarm Payrolls diperkirakan sekitar 70.000 dengan tingkat pengangguran stabil di 4,4%
Baca selengkapnya Previous

Eropa: Reset Geoekonomi dan Hubungan AS – Rabobank

Para analis di Rabobank mencatat sikap geoekonomi Eropa yang berkembang dan hubungan kompleksnya dengan Amerika Serikat
Baca selengkapnya Next